
Rabu, 06 Oktober 2010 Pukul 22.30 WIB.
Akhirnya aku bisa kembali menulis catatan harianku seperti biasanya setelah 2 bulan lamanya tidak menulis.
Aku yang merupakan seorang prokok yang ingin berhenti, walau saat ini aku sedang merokok.
Banyak sekali yang ingin ku bagikan perasaan ini. Perasaan yang bagiku sangat luar biasa, perasaan yang bisa memotivasi jalanya kehidupanku untuk tetap bertahan dan maju selangkah demi selangkah.
Hambatan demi hambatan terus menghampiri dengan begitu bertubi, dari mulai masalah keluarga, cinta dan Financial, tp aku yang mulai sadar akan adanya Allah SWT dan mulai yakin akan pertolonganya ingin s’lalu ku memohon ampunan , Ridho, dan Rahmat –Nya. Alloh tidak akan memberi cobaan berat yang tidak ada jalan keluar bagi hamba-Nya. Bgitu yang ku ingat dari ajaranku. Ternyata memang bukan dongeng semata.
Malam takbir iedul Fitri, aku mulai berfikir dan merenungi akan kesalahanku dimasa aku menjalin hubungan dengan Chintya mantan pendampingku. Air mata mulai bercucuran membasahi piipiku, isak tangis tak bisa ku tahan, aku yang telah menyakiti dan telah berbuat dosa kepadanya,
apa yang telah aku perbuat ??
apa yang telah aku lakukan ??
Cercaan dan makian telah aku lemparkan padanya!! Apa yang telah kulakukan?? Kata-kata kasar dari ku juga menghujani dirinya!! Ada apa dengan aku ini ?? jelas saja yang namanya wanita hanya diam dengan keadaan seperti itu, apa lagi wanita seperti dia. Ku caci maki dia, dia hanya diam, ku semprot dia dengan kata-kata kasar dia juga hanya diam pasrah akan semua yang ditimpakanku kepadanya… sungguh aku ini memang lelaki bodoh yang sadis.
Tapi sekarang aku sadar tak seharusnya aku berbicara seperti itu pada wanita, apalagi dia itu adalah pendamping ku sendiri. Meskipun dia telah berbohong kepadaku, meskipun dia tidak menghargai ku, meskipun aku kesal, aku marah, aku benci aku tak boleh dan tak selayaknya berbuat seperti itu pada pendampingku. Ini yang s’lalu membuat diriku merasa bersalah dan merasa hina, bahkan diriku sendiripun masih belum bisa memaafkan diri ini. Sekarang yang kuingat dari Chintya adalah satu pertanyaan darinya yang telah menyadarkanku saat ini “Apakah Rasa kesal dan benci a lebih besar dari pada rasa saying dan cinta a ke Nenk ??”.
Aku pun telah menemukan jawaban dari pertanyaanya itu “Ternyata rasa Kesal dan Benci ku kepada Chintya tidak ada artinya jika dibandingkan dengan Rasa Penyesalanku atas kehilangan dirinya”.
Sayangnya dia tidak akan tahu akan rasa penyesalanku saat ini, aku terlambat.
Yang dia tahu hanyalah kebodohan dan perlakuan kasarku terhadapnya selama dalam jalinan dengan ku yang menimbulkan luka sangat dalam di hatinya. HIks…hiks…
Malam itu pun mulai larut, dan aku mulai membuat puisi dari lirik lagu “Semua Yang Ada” tapi telah sedikit ku ubah. Aku ingin meminta maaf dan minta maaf, aku sadar akan keegoisan dan smua kesalahanku padanya.
Jauh hari kumerasa
Kau pasti bahagia di sisiku
T’lah terjadi semuanya
Kau pergi meninggalkan diriku
Ku akui ku s’lalu sakitimu
Tapi hati ini hanya ingin mu
Dan kini maafkanlah ku,
Teralanjur sayangi,
Terlanjur ingini semua yang ada
Di dalam dirimu
Andaikan ku bisa berpaling dari dirimu…….
Lemah hati ini jika aku harus memilih lagi…….
S’lain kata-kata itu, aku juga telah menyiapkan satu pertanyaan “ Apakah aku masih diizinkan kembali??”.
Tidak lama setelah membuat persiapan itu, aku berpikir!! Bagaimana caraku untuk menyampaikan pesan ini padanya ?? masih belum ku temukan…
Malam itu aku pun tertidur……..
* * *
2 hari berlalu sejak malam itu, aku memaksakan diri untuk berkomunikasi denganya melalui SMS, walau aku tau hal ini merupakan hal yang tidak diinginkannya.
Aku mencoba menyapa, menanyakan kabar dan lain sebagainya, hingga akhirnya aku mencoba untuk berbicara denganya melalui telepon tp dengan izin dia.
Huft…..Hasilnya NIHIL, dia sama sekali tidak tertarik untuk berbicara denganku….
Tapi aku sama sekali belum merasa puas untuk jawaban darinya, aku pun mulai ngelantur, dan ngomong ini itu agar dia mau berbicara denganku nanti malam (lewat telepon). Aku bilang aku akan menunggu jawabanya nanti malam, aku tidak puas dengan jawaban sekarang karena dari SMS, aku ingin jawaban pasti dengan berbicara langsung lewat lelepon. Aku akan menunggu dari jam 22.00-00.00.
Malam pun tiba, pukul 22.00 aku menunggunya dengan sabar, hatiku mulai bergetar. Detik demi detik kurasakan kegelisahaan, meskipun dia mengirim pesan dan dia setuju untuk menerima telepon dariku, belum tentu kabar baik yang akan aku dapat, bisa saja ia mengomel, mengoceh dan memarahiku, seperti yang kulakukan padanya serta menyuruhku untuk tidak lagi menghubunginya, karena aku tau dia sudah muak terhadapku. Tapi lebih baik seperti itu karena aku bisa mendengarkan kata-kata yang keluar dari mulutnya secara langsung, meskipun pahit, tapi pasti......
Pukul 23.50 pun tiba, sama sekali belum ada kabar darinya, aku takut akan yang kutakutkan akan terjadi, kegundahanku pun bertambah, detik demi detik terasa begitu menyiksa….
Hingga akhirnya…..
Tepat tengah malam, puncak waktu aku menunggunya, dan masih belum ada kabar darinya. Air mata pun tak bias kutahan, hati menjerit mulai kurasakan. Aku menangis.
Menagisi akan semua yang telah kulakukan dan ku dapatkan….
Aku merasa benar-benar kehilangan jiwaku saat itu ??
Aku tak tinggal diam, aku pun mengirimkan Lirik lagu itu untuknya dan meminta maaf dengan sesak dada serta isak tangis…
Malam semakin larut dan aku mulai mengarungi lautan penyiksaan diri.
* * *
`Pagi Hari pun tiba, terdengar suara HandPhone berbunyi, satu pesan masuk….
Dari siapa lagi… tenyata Chintya membalas pesan dariku…ketakutan memenuhi isi kepalaku, kehawatiran dan kecemasan, aku masih belum membuka isi pesannya, aku hanya memandangi pesan itu, aku memejamkan mata hingga akhirnya aku buka isi pesan darinya itu. Mulai kubuka mata ku perlahan-lahan…. Hingga akhirnya aku membaca isi pesan !!
Dalam pesan itu dia bermaksud menegaskan status hubunganku denganya, bahwa aku sudah bukan pendamping hidupnya lagi dan status baru itu sudah lama dia rasakan…
Ditambah lagi satu kata yang juga menusuk hati ku “A kita ga mungkin kembali lagi, sudahlah…. Lagian nenk juga dah punya Co (pacar) ”.
Hatiku hancur berkeping-keping, harapan ku juga sirna, dan kegelapan memenuhi isi kepalaku, aku hanya terdiam, cucuran air mata mulai membasahi pipi. Inikah yang dinamakan sakit hati ??
Aku tak bisa menyalahkan orang lain, apa lagi pasangan baru mantan ku itu, aku hanya bisa menyalahkan diriku sendiri. Dan menyesali tindakan ku sendiri. Mungkin dia benar, dia akan merasa bahagia jika dia bersama dengan orang lain yang lebih dia cintai, bukanya aku. Aku masih bisa tersenyum walau perihnya hati ini memeluku.
Tapi apakah ini artinya aku harus memulai lagi dengan orang lain??
Apakah aku harus membunuh perasaan ku terhadap Chintya??
Tidak semudah membalikan telapak tangan, aku telah beberapa kali mencoba, tapi hasilnya NIHIL…
Kasih saying dan rasa cintaku sudah tumbuh besar untuk Chintya…
Aku tau bagaimana rasanya mencintai tapi tidak dicintai, aku merasakanya….
Sebisa mungkin aku tidak ingin hal itu sampai terjadi kepada orang lain….
Haruskah ku bunuh diriku?? Dengan membunuh perasaanku terhadap Chintya. Menghapuskan segala sesuatu tentang dirinya!! Hal yang sangat sulit….
Telah aku coba…
Aku telah melanggar suatu pilihan yang sangat, yang telah kupilih dengan berbagai pertimbangan dan pemikiran, tak bisa ku anggap Chintya Mati…. Tak bisa kubunuh diriku sendiri…
Lalu apa yang bisa kulakukan ??
Aku hanya bisa menunggu, dan hidup dengan cara memalukan seperti ini.
* * *
Tiga hari berlalu setelah kejadian itu, kesedihan pun mulai menyurut berkat kehadiran teman-teman dan keluargaku, ditambah kabar yang sangat menggembirakan buat keluargaku, kakak ku yang ke-2, Redi Kharismawan akan memulai hidup baru dengan pendampingnya yang sah, kakak ku akan menikah,
Aku pun mulai memepersiapkan pakaian yang akan ku kenakan dalam pernikahan kakak ku, ibu ku datang dari bandung untuk mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan dihari itu, mulai dari pakaian calon pengantin, seserahan yang akan diserahkan keluargaku untuk pihak perempuan yang akan menjadi calon kakak iparku, dan juga pakaian yang akan aku kenakan dihari itu, ibu mempersiapkannya, hanya saja celana yang akan aku pakai merupakan kenag-kenangan berharga dari generasi ku waktu di pondok At-tajdid dulu, yaitu celana PKL warna hitam.
Ibu ku mencuci celanaku itu ditepi kolam ikan (balong), ketika ia mengambil celanaku dan hendak mencucinya, tiba-tiba ibuku memanggil ku,
“Yang, kadieu!!” teriak ibu ku. Aku heran keheranan, ada apa ??
Akupun menghapirinya, “Aya naon, mah ??” (ada apa bu??)
“Ari dina lancingan ayang aya naon?? Tadi aya nu murag ka balong!!” Tanya ibuku.
Lho!! Emang ada apa dalam saku celanaku, akupun mulai mengingat-ngingat,apa ya?? Emmhhhh… dan ternyata…… ohh, tidak, kalung yang sangat berharga bagiku, kalung yang juga merupakan tanda aku pernah menjalin hubungan dengan Chintya, ohh tidakk…
Seketika pula aku masuk kedalam kolam untuk mencarinya, kolam yang dalamnya sekitar 1,20 meter yang dasarnya dipenuhi oleh Lumpur…akan tetapi hsilnya NIHIL, tak bisa kudapatkan kalung itu kembali….
Tapi kenapa harus kalung itu yang hilang, aku lupa aku melepaskan kalung itu ketika aku sholat subuh, dan aku memasukanya kedalam katung celanaku, kenapa ?? kenapa ??
Apa ini pertanda aku memang ditakdirkan untuknya?? Hingga dalam keadaan berpisahpun nasib telah melenyapkan satu-satunya kenangan berhargaku denganya. Kalung itu juga tidak bisa diambil karena kalungnya terlalu kecil dan di dasar kolam juga dipenuhi oleh Lumpur.
Aku menjawab dengan nada lemas kepada ibuku “Kalung mah!”
“kalung nu mana ?? nu ti kabogoh Ayang (Nama Kecilku)” kata ibuku,
“Muhun, mah!!” sahut ku dengan nada pasrah…
Ibu ku juga mulai panic dan merasa bersalah, “Terus kumaha atuh, Yang?? Ngke ngambek atuh kabogoh Ayang na!!”.
Ibuku tidak mengetahui apa-apa tentang hubunganku dengan Chintya, yang dia tau hanyalah aku masih berhubungan denganya.
Aku hanya tersenyum kecil, dan menjawab “Nya wios we, mah! Da tos takdir na mereun kalung eta ical”………………
Dalam hati aku berpikir…..
Ada apa sih dalam hububngan aku dengan Chintya, ko banyak sekali cobaan dan hambatannya, Yah mungkin ini kebetulan, atau memang kami dilarang untuk bersatu karena suatu alasan, yang pastinya aku percaya terhadap Alloh yang telah menentukan takdirku, yang telah mengatur semuanya.
Hanya saja aku tidak boleh terlalu mengingat Chintya, aku percaya. Jika dia memang ditakdirkan untuku, dia akan kembali lagi padaku, tapi jika dia tidak kembali padaku, takdir telah menentukan perempuan lain yang akan menjadi pendampingku kelak, tapi siapa ?? aku hanya percaya, dan berusaha sebisanya.
Aku telah mengubur keinginanku untuk mendapatkan Chintya kembali, walau di dasar hati ada suara “Aku masih sangat mencintainya&menginginkanya”. Aku harus tetap menguburnya dan menjadi diriku yang baru untuk menggapai masa depan.
* * *